PUASA ROMADHON 1434 H MEMBAWA BERKAH

Assalaamualaikum wr wb.
Judul itu menurut istri saya saat akhirnya berani untuk pertama kalinya menjual dua ekor kambing PE kepada teman yang datang sudah tiga kali. Ada cerita lucu tentang ini, karena pada waktu teman dari Turi Sleman akan membeli seekor cempe jantan kami yang berwarna coklat dengan harga yang tinggi, istri malah tidak melepaskannya karena masih sayang dengan kambing tersebut, mungkin karena dia yang ngasih dot sejak keci?. Tetapi setelah kandang sudah tidak muat menurut saya, lama-lama akhinya rela juga menjualnya, eh setelah menerima uangnya, seneng juga itu istriku. Hahaha…
Ya sudah sekarang programnya mengurangi populasi sekitar 10 han ekor dulu karena kami sudah tidak ada dana untuk membangun kandang lagi (yang sedianya akan dibentuk leter ‘U’ sekarang masih leter ‘L’ saja), yah menunggu ada dana dulu mungkin..???Amiin
Oh iya bagi pembaca yang tertarik untuk membeli kambing PE kami bisa langsung datang tanpa perantara ke gubug kami (promosi nih…).
Oke sekian dulu kabar dari kami setelah sekian lama gak aktif (maklum ngeblog baru dalam taraf belajar), tapi yang jelas sekaang kambing ada 29 ekor yang bsa diilih oleh pembaca untuk dibeli.
Terimakasih
Wassalam
Darowi

Dari ‘gethok tular’

Sejak dimulai memerah susu sendiri, dengan tuntunan cara memerah susu yang kami peroleh dari dolan ke peternak PE lain serta menelusuri internet, ternyata kuncinya satu: alat dan manusia harus bersih (steril) bila akan memuali memerah susu PE, sehingga efek negatif terhadap kambing sendiri bisa terhindarkan (misalnya infeksi pada susu kambingnya sendiri).
Semula kambing memberontak bila mau diperah, lama-lama mapan sendiri bahkan sambil acuh tak acuh tetap melanjutkan kegiatan makan ramban yang disediakan, asyik juga ternyata. Disamping itu, setiap kambing mempunyai tingkah laku sendiri bila diperah, dan ini kita sebagai peternak harus hafal. Sehingga tidak mengganggu proses kegiatan memerah susu tersebut.
Tanpa ada iklan dan lain-lain, semula para tetangga tidak ada yang mau merasakan susu PE kami. Namun dari satu dua tetangga yang merasakan khasiat PE dengan sendirinya mereka saling informasi ke lainnya (gethok tular istilah bahasa jawanya), hingga kini tulisan ini dibuat bahkan kami kewalahan memenuhi permintaan dari tetangga, maklum kambing betina kami masih sedikit.
Rata-rata para tetangga hanya membeli Rp 5,000 an saja (atau sekitar 200 ml) dipakai untuk pengobatan:
a. sariawan anaknya,
b. mememlihara kesehatan bagi yang sudah terkena diabetes,
c. bahkan ada yang divonis dokter terkena radang paru -paru, beliau ini setiap hari meminta jatah 200 ml untuk terapinya
d. ada juga yang untuk menghilangkan gejala hipertensi dan hipotensi
semua ini tanpa iklan, dan kami pun bersyukur bisa ikut andil merawat kesehatan masyarakat sambil mencari rejeki dengan usaha ternak PE kecil-kecilan ini.
Saat ini ada beberapa point yang menyebabkan permintaan susu tidak bisa terpenuhi, diantaranya adalah:
– libido kambing betina tidak bia diatur, padahal untuk bisa diperah kambing harus hamil dan melahirkan anak terlebih dahulu,
– kurang banyaknya kambing betina yang hamil, bila sudah banyak otomatis kemungkinan kambing betina hamil akan semakin banyak, begitu sederhana kelihatannya, namun karena terbentur biaya operasional yang cukup tinggi (karena usaha sendiri) maka hal ini menjadi kendala yang cukup berarti.
Mudah-mudahan dengan semakin sadarnya tindakan preventif menjaga kesehatan dari masyarakat, akan semakin banyak orang yang tertarik untuk beternak kambing PE ini, karena memang sangat berpotensi mendatangkan keuntungan hingga paling tidak sebesar 30% dari biaya operasionalnya sendiri. Apalagi bila di lingkungan kita mau membentuk koperasi atau perkumpulan peternak, bibit sudah ada tinggal ‘nggadhuh’ serta memelihara sendiri di rumah masing-masing, Insya Allah rejeki akan menghampiri kita bersama, Amiin.
Sekian
Darowi (sedang di Tangerang)

PENYAKIT KAMBING

PENYAKIT MULUT (Ecthyma/ORF) PADA DOMBA DAN KAMBING

PENGENALAN
Ecthyma adalah penyakit yang menular, juga dikenal sebagai ORF atau penyakit mulut, adalah penyakit zoonosis, yang berarti bahwa itu mudah menular dari hewan ke manusia. Menginduksi lesi pustular akut pada kulit kambing, domba dan ruminansia liar di seluruh dunia. Hewan muda adalah yang paling rentan tertular penyakit ini. Anak domba (cempe-Indonesia) dapat terkena penyakit mulut setelah beberapa minggu kelahiran. Namun, wabah ini paling sering menginfeksi pada Cempe selama disapih.

Penyakit mulut ini disebabkan oleh poxivirus. Virus ini epitheliotropic, yang berarti bahwa ia memiliki ketertarikan ke kulit, infeksi terjadi melalui kontak langsung. Masa inkubasi relatif singkat. Hewan rentan biasanya memerlihatkan tanda-tanda pertama dari penyakit 4 sampai 7 hari setelah terpapar, dan bertahan selama 1 sampai 2 minggu atau lebih lama. Bila tidak segera ditangani, penyakit ini sangat cepat menular ke kambing lain.

Wabah ORF terjadi lebih sering selama periode suhu ekstrim seperti akhir musim panas dan musim dingin. Penyakit ini awalnya hadir sebagai papula (elevasi kulit) yang berkembang menjadi lepuh (kantong berisi cairan) atau pustula sebelum encrusting. Lesi ini ditemukan pada kulit bibir. Mereka dapat menyebar di sekitar bagian luar dan bagian dalam mulut, wajah, bibir, telinga, vulva, mari, skrotum, dot, dan kaki, biasanya di wilayah interdigital. Lesi yang luas pada kaki dapat menyebabkan kepincangan pada kambing dewasa dan muda. Infeksi ini menyebar melalui kontak langsung dan tidak langsung dari hewan yang terinfeksi atau melalui kontak dengan jaringan yang terinfeksi atau air liur yang mengandung virus.
Selama perjalanan penyakit, lepuh akhirnya memecah untuk melepaskan lebih banyak virus dan kemudian berkembang menjadi basah nanah seperti (supuratif) scabs. Lesi ini dapat bertahan selama 3 minggu dan dapat menjadi sebuah sumber untuk perkembangan infeksi bakteri sekunder. Jaringan keropeng sangat menyakitkan, hingga memnyebabkan pengaruh ke nafsu makan. Karena anak kambing yang terinfeksi menghasilkan lesi pada gusi dan bibir, pada saat menyusu ke induk maka induk ini akan terinfeksi dengan timbulnya lesi pada ambing mereka. Lesi pada ambing adalah karena kontaminasi langsung selama menyusui yang menyebabkan mastitis (radang kelenjar susu). Tingkat yang lebih parah adalah terjadinya pembesaran kelenjar getah bening, radang sendi, dan pneumonia. Sebagian besar hewan mendapatkan kekebalan setelah tertular penyakit ini, namun wabah berikutnya pada peternakan umumnya kurang begitu membahayakan.

PENGOBATAN
Lesi dapat diobati dengan Larutan yodium 3%. Dalam banyak kasus, hewan spontan bisa langsung sembuh.
Pada kasus yang berat dari infeksi bakteri sekunder, penggunaan antibiotik sistemik dianjurkan. Hal ini penting untuk mengobati lesi pada puting untuk mencegah perkembangan mastitis. Untuk anak kambing yang terinfeksi, pastikan mereka diberi makan artifisial.

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN
a. Minimalkan stress akibat transportasi.
b. Hewan yang terinfeksi segera dikarantina.
c. Dalam kasus sudah terjadi wabah, tetap pisahkan hewan yang sakit, kemudian, dan pengobatan dilakukan setelah diberi pakan.
d. Bakarlah peralatan yang sudah terkena lesi dari hewan yang sakit. Virus ini dapat bertahan dalam jaringan hewan untuk jangka waktu yang lama, sehingga bisa menjadi sumber kontaminasi.
e. Selalu gunakan sarung tangan saat menangani hewan yang sakit.
f. Hindari konsumsi susu bila ada penyakit ORF ini.
g. Vaksinasi sistematis dari seluruh hewan hanya disarankan selama wabah.
Dalam kawanan kambing/domba di mana ada prevalensi penyakit ini, hewan harus divaksinasi pada usia 1 bulan dengan booster 2 sampai 3 bulan kemudian. Namun saat ini tidak ada vaksinasi yang direkomendasikan untuk kambing sejak vaksin domba tidak disetujui FDA untuk digunakan dalam kambing.

Sumber : LEITE-BROWNING. PubID: UNP-0063
Judul asli: CONTAGIOUS ECTHYMA (ORF/SORE MOUTH) IN SHEEP & GOATS
Published by the Alabama Cooperative Extension System (Alabama A&M University and Auburn University)

Sejarah Etawa atau Ettawa

Etawa asli berasal dari Jamnapari (atau Jamunapari) adalah jenis kambing yang berasal dari Pakistan, India dan Bangladesh. Sejak 1953 mereka telah diimpor ke Indonesia (populer sebagai kambing etawa, setelah di Indonesia ber campur dengan kambing lokal dan menjadi bernama PE (Peranakan Etawa atau kambing etawa campuran) dan telah berkembang biak dengan bagus. Di Indonesia dibiakkan untuk diambil susu dan dagingnya.
Ada banyak variasi dalam warna kambing ini, tetapi Jamnapari yang khas adalah putih dengan bercak cokelat di leher dan kepala. Kepala mereka cenderung memiliki hidung yang sangat cembung. Mereka memiliki telinga terkulai panjang datar sekitar 25 cm. Kambing jantan maupun betina memiliki tanduk. Ambing memiliki ujung/puting yang berbentuk kerucut dan berkembang dengan baik. Mereka juga memiliki kaki yang luar biasa panjang.
Kambing Jantan Jamnapari bisa mencapai berat sampai 120 kg, sementara yang betina mampu mencapai berat sekitar 90 kg.
Hasil laktasi rata-rata per hari bisa mencapai dua kilogram. Daging kambing Jamnapari termasuk rendah kolesterol.
Sumber: Wikipedia

Pengantar

Assalamu’alaikum wr.wb.
Bermula dari melihat acara Jendela Usaha di salah satu stasiun TV swasta tentang beternak Kambing Etawa awal tahun 2010 yang lalu disitu ada acara ternak kambing Etawa di Bogor (yang daerahnya beriklim dingin-seperti daerah asal kambing Etawa dari Jamnapari-India), timbul rasa ingin tahu apakah kambing Etawa juga mau/bisa diternakkan di daerah panas seperti di Gunungkidul, tepatnya di Kalurahan Logandeng, Kecamatan Playen, Wonosari, Gunungkidul (rumah kami). Kemudian kami konsultasi sekaligus berkenalan dengan Bp Amanta salah satu pengurus koperasi Etawa Mulya di Turi Sleman.(desa Kemiri kebo).
Akhirnya pada Pebruari 2010 kami memberanikan diri ‘nempil’ 5 ekor kambing Etawa (1 jantan dan 4 betina umur sekitar 8 bulan).
Setelah melakukan trial and error sendiri (mulai dari nol pengalaman beternak) sedikit demi sedikit kambing mulai berkembang hingga sekarang menjadi 13 ekor.
Mulai Pebruari 2012 kami mencoba untuk memerah susu PE, sebelum dikonsumsi umum, dicoba cek lab ke Dinas Peternakan Wonosari-Gunungkidul untuk kelayakan konsumsinya.
di Gungkidul belum banyak peternak kambing khususnya Peranakan Etawa yang membudidayakannya dengan tujuan diambil susunya.
Harapan kami dengan Rintisan Peternakan PE skala kecil ini dapat menarik teman-teman peternak di Gunungkidul khususnya di Logandeng untuk lebih memberdayakan kambing PE nya tidak sekedar diambil dagingnya seperti sekian lama ini berlangsung.
Untuk Pemerintah Desa Logandeng maupun Kabupaten Gunungkidul, kami sangat berharap nasehat maupun bantuan lainnya demi majunya peternakan di Gunungkidul.

Terimakasih
Wassalamualaikum wr wb.

Penulis
Darowi Ahmady/Sri Harini

Koresponden:
Alamat: Plembon Lor RT-05 RW-02
Kalurahan Logandeng
Kecamatan Playen
Kabupaten Gunungkidul
HP : 08127227868; 081931723110
E mail: darowi2012@gmail.com; darowi_ahmady2000@yahoo.com